Wikipedia

Hasil penelusuran

Kamis, 04 Desember 2014

turun ke level halte

Turun ke level Halte
Masih pagi ketika aku sudah sampai di universitas dimana namaku tercantum sebagai salah satu mahasiswa baru. Aku berjalan perlahan sambil mengamati daerah kampus. Maklum saja, ini merupakan pertama kalinya aku ke sana dan benar-benar sendirian.
“Maaf mbak” tak sengaja seorang laki-laki berperawakan gagah menginjak kakiku.
“Eh iya nggak apa-apa.” Aku menjawab datar.
“Mbaknya kok melamun sih, ada yang bisa di bantu? Oh ya nama saya Fandi, saya sudah semester empat.”
Aku hanya tersenyum simpul sambil memperkenalkan diri. Tak lama kemudian kami telah ngobrol banyak dan dia yang menemaniku mengurusi semua proses yang diminta oleh kampus. Aku sudah biasa mengalami hal semacam ini, pura-pura menyenggol, minta maaf, ngajak kenalan, dan pada akhirnya minta jadi pacar. Modus.
Menurut banyak lelaki, aku adalah wanita yang cantik. Dan aku menyadari semua itu. Karenanya aku selalu PD walaupun harus berjalan sendiri. Aku bukan tipe orang yang memaksa orang lain untuk menemaniku kemanapun aku pergi. Aku bisa tanpa mereka.
“Bu, aku sudah menyelesaikan semua urusan administrasinya, kuliah dimulai satu bulan lagi, apa aku boleh pulang?” Sedikit merengek aku berkata pada ibuku. Aku masih belum mengerti daerah ini, dan seperti yang aku katakan tadi, aku tidak mau memaksa Fandi menemaniku kemana-mana.
“Iya, kamu pulang saja Nak, kamu urusi sendiri tiketnya ya. Karena akan lebih mudah mengurusnya kalau dari sana.” Terdengar suara jernih ibuku di seberang telepon.
Ku tutup telepon dan menyandarkan kepalaku di bantal. Tiba-tiba hp-ku berdering lagi. Telepon dari Amika. Teman karibku saat SMA.
“Kamu pulang hari apa Der?” Tanya Amika.
“Lusa Mik, kenapa?”
“Ini, si Dewa bilang mau jemput kamu” Jawaban Amika cukup membuatku terkejut. Dewa adalah salah satu mantan pacarku. Sudah lebih dari dua tahun kami putus, dan setelah dia aku sudah menjalin hubungan dengan tiga pria lain.
“Kenapa? Kan dia sendiri yang bilang kita udah nggak ada hubungan apa-apa.”  Dengan malas kurespon perkataan Amika.
“Aku juga nggak tahu. Mungkin dia kangen sama kamu.”
Aku tidak terlalu menanggapi masalah Dewa tadi. Nggak penting menurutku. Toh kalaupun dia mau menjemputku, aku akan tetap pulang bersama supir orang tuaku.
Kira-kira jam 10 pagi, aku sampai di bandara Ahmad Yani. Di sana sudah ada adikku, Amika, pak supir, dan benar saja, Dewa. Dia yang paling antusias menyambut kedatanganku. Aneh sekali. Karena dulu dia yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.
“Ayo Der, aku bawakan tas kamu.” Semangat sekali Dewa mengambil tasku, namun segera kutepis tangannya.
“Aku bisa sendiri.” Jawabku datar. Selama perjalanan aku sama sekali tidak menggubrisnya. Dia seolah-olah terus mencari perhatian. Menjengkelkan sekali.
“Kamu kok gitu banget sih sama Dewa?” Sesampainya di rumahku, Amika langsung menatapku tajam.
“Gitu gimana? Emannya aku salah apa sih?” Dengan santai ku jawab pertanyaan Amika.
“Kamu galak banget sama dia. Padahal dia udah mau baikan sama kamu.”
“Loh, memangnya aku pernah ngajakin dia bertengkar? Enggak kan? Dia yang ngejauhi aku dulu.” Aku menjawab ngotot. Aku sama sekali nggak merasa bersalah saat ini. kenapa aku di salah-salahkan?
“Terserah kamu deh, aku mau pulang, ngantuk.” Amika langsung berlalu.
Adikku yang sejak awal menyaksikan perdebatan kami langsung angkat bicara melhat Amika mulai ngambek. Namun dia tetap tidak berhasil membujuk Amika.
“Kakak sih, kan sekarang Kak Mika jadi ngambek.” Gerutu Selia.
“Biarin ajalah Dek, bukan salah kakak kok.” Aku masih teguh membela diri.
“Kalau sikap kakak kayak gitu terus, nggak akan ada yang mau temenan sama kakak.” Sambil menutup pintu kamar adikku yang baru berusia 16 tahun menceramahiku.
“Dasar anak kecil sok tau.” Gerutuku dalam hati.
Tak terasa sudah waktunya aku kembali ke perantauan. Amika sudah tidak marah lagi padaku, dan aku sengaja tidak mengabari Dewa tentang keberangkatanku kali ini, sehingga perjalananku mulus-mulus saja. Tapi ternyata tidak selamanya demikian. Kau tau siapa yang aku lihat di bandara? Fandi. Entah bagaimana dia ada di sana.
“Dek. Baru sampai?” sapanya hangat. Entah sejak kapan ibunya melahirkan aku.
“Ia mas. Kok ada di sini?” jawabku berusaha ramah. Sebenarnya Fandi ini termasuk cowok tipeku. Gagah, ganteng, dan cool. Tapi dia banyak jerawat. Bikin ilfill.
Tadi nganterin teman. Besok kalau ada apa-apa waktu ospek, lapor saja sama mas, ntar mas beresin.”
Tawaran yang menarik. Tidak ada alasan untuk menolaknya. Namun aku malah bertemu pria lain yang jauh lebih menarik dari Fandi. Ketua BEM Universitasku. Dia juga memberi tawaran yang sama dengan yang Fandi berikan. Padahal aku yang nyamperin duluan. Bahkan dia lebih berani, karena langsung meminta nomor handphoneku saat pertama kali dia mengajakku bicara. OMG.
Hari-hari yang kulewati sangat menyenangkan. Berbeda sekali dengan cerita orang-orang tentang ospek yang kejam, layaknya zaman penjajahan. Bagaimana mungkin aku diperlakukan buruk kalau ada dua senior yang mendekatiku.
Tiba-tiba kulihat Fandi berboncengan mesra dengan salah satu seniorku juga. Mbak Laras. Orangnya sih manis, tapi sayang agak gemuk. Aku menatapnya dengan heran. Kenapa dia mendekatiku kalau sudah punya pacar? Ku kirim wall di fb Fandi, dan di komen oleh Mbak Laras.
“Haha. Wajarlah dek kalau cowok nganterin pulang pacarnya”
Kata-kata yang cukup membuatku merasa jleb. OMG, lah terus ngapain dia dekati aku?
Baiklah, masih ada Mas Galang. Namun ternyata, setelah hari dimana dia meminta nomor handphoneku, dia sama sekali tidak menghubungiku, dan bahkan aku dengar kabar dia udah jadian sama Meta. Mahasiswa baru juga di kampus. OMG. Apa yang terjadi sama aku sih? Kenapa lelaki-lelaki itu Cuma singgah sebentar? Mereka pikir aku halte apa?
Tenang Der, masih ada Dewa. Ku kirim SMS ke Dewa, sekedar basa basi. Namun apa balasannya?
“Maaf Der, aku nggak mau bertengkar sama pacar aku gara-gara masih SMS an sama mantan”
Membulat mataku saat membacanya. Mungkin sekarang aku harus berteriak. OMG!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar