Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 05 Desember 2014

curhat dari #kampusfiksi

Kapan lagi ku tulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu
Dari dalam kamar asrama dua aku dan beberapa teman menertawakan musik yang di putar. Selama di #kampusfiksi, musik yang terdengar saat istirahat selalu lagu galau. Jumat malam aku tiba di gedung tempat akan di langsungkannya seluruh rangkaian acara #kampusfiksi. Setelah sebelumnya tunggu-tungguan di Stasiun Lempuyangan dengan Mbak Vina (mbak kandungku) dan Feni, dedek baru dari Surabaya. Tidak banyak yang kami ceritakan selama perjalanan. Mungkin sudah lelah dan mengantuk. Setibanya di gedung yang belum rampung itu, kami di sambut dengan hangat oleh kakak-kakak diva press. Ada dua kamar untuk perempuan, aku memilih memasuki kamar yang tidak jauh dari pintu masuk. Ternyata di sana sudah ada beberapa penghuni. Setelah berkenalan ala kadarnya, kami pun mulai mengatur posisi tidur.
Lebih dari lima puluh jam kami berada di dalam gedung itu, tanpa sedetik pun menginjakkan kaki di aspal luar. kami bercerita, menulis, mendengarkan, bernyanyi, makan, minum, mandi. Semuanya di lakukan di dalam ruangan yang hangat tersebut. keluarga baru yang kami temui benar-benar menyambut kami dengan ramah. Sehingga tak ada rasa bosan menyergap jiwa kami. Tunggu, tidak semuanya baru. Karena aku seangkatan dengan mbak kandungku, rasanya jadi aneh. Seru, sih, ada orang yang sudah saling mengerti. Tapi aku jadi merasa kurang akrab dengan yang lain. Mana kita sekelompok lagi. Jadinya kemana-mana berdua, bosen. (peace mbak Vina :p)
Terlalu banyak yang kami dapatkan di sana. Ilmu, keluarga baru, makanan yang nggak pernah habis, sampai buku yang banyak banget di dapatkan secara gratis. Semua temanku tercengang melihat apa yang aku bawa pulang.
itu semua gratis, Vik? Bohong deh. mana mungkin sebanyak itu gratis.”
“Kamu dapat kayak gitu nggak bayar? Enak banget.”
“Kamu kapan daftarnya? Tau gitu aku ikut juga.”
“Sumpah demi apa kamu dapat begituan nggak ngeluarin duit?”
 Aku nyengir kuda saja merespon keraguan mereka. Nggak mungkin juga rasanya aku fotokopi buku bank sebagai bukti tidak ada biaya yang aku transfer ke rekening diva press.
Setiap saat yang berlalu di #kampusfiksi seolah tidak cukup hanya sekali ku alami. Ingin terus terjadi. Kecuali satu hal. Untuk Mas Kiki, maaf banget ya udah ngerepotin.. aku jadi merasa sebagai peserta paling rempong segalaksi. Hee.. maaf Mas.. makasih juga udah di anterin nyampe kos :D
Untuk Pak Edi, kakak-kakak dari #kampusfiksi dan diva press, serta teman-teman baru yang begitu luar biasa, terima kasih sudah menorehkan cerita yang bisa ku sampaikan untuk anak cucuku kelak #halah #opoiki :D
Kapan lagi ku tulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu

Lagu galau itu sudah tidak ku tertawakan lagi. Justru lagu itu yang menjadi umpan memutar kembali memori indah selama di #kampusfiksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar