Kapan lagi ku tulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu
Dari dalam kamar asrama dua aku dan beberapa teman menertawakan
musik yang di putar. Selama di #kampusfiksi, musik yang terdengar saat istirahat
selalu lagu galau. Jumat malam aku tiba di gedung tempat akan di langsungkannya
seluruh rangkaian acara #kampusfiksi. Setelah sebelumnya tunggu-tungguan di
Stasiun Lempuyangan dengan Mbak Vina (mbak kandungku) dan Feni, dedek baru dari
Surabaya. Tidak banyak yang kami ceritakan selama perjalanan. Mungkin sudah
lelah dan mengantuk. Setibanya di gedung yang belum rampung itu, kami di sambut
dengan hangat oleh kakak-kakak diva press. Ada dua kamar untuk perempuan, aku
memilih memasuki kamar yang tidak jauh dari pintu masuk. Ternyata di sana sudah
ada beberapa penghuni. Setelah berkenalan ala kadarnya, kami pun mulai mengatur
posisi tidur.
Lebih dari lima puluh jam kami berada di dalam gedung itu, tanpa
sedetik pun menginjakkan kaki di aspal luar. kami bercerita, menulis,
mendengarkan, bernyanyi, makan, minum, mandi. Semuanya di lakukan di dalam
ruangan yang hangat tersebut. keluarga baru yang kami temui benar-benar
menyambut kami dengan ramah. Sehingga tak ada rasa bosan menyergap jiwa kami.
Tunggu, tidak semuanya baru. Karena aku seangkatan dengan mbak kandungku,
rasanya jadi aneh. Seru, sih, ada orang yang sudah saling mengerti. Tapi aku
jadi merasa kurang akrab dengan yang lain. Mana kita sekelompok lagi. Jadinya
kemana-mana berdua, bosen. (peace mbak Vina :p)
Terlalu banyak yang kami dapatkan di sana. Ilmu, keluarga baru,
makanan yang nggak pernah habis, sampai buku yang banyak banget di dapatkan
secara gratis. Semua temanku tercengang melihat apa yang aku bawa pulang.
“itu semua gratis, Vik? Bohong deh. mana mungkin sebanyak itu
gratis.”
“Kamu dapat kayak gitu nggak bayar? Enak banget.”
“Kamu kapan daftarnya? Tau gitu aku ikut juga.”
“Sumpah demi apa kamu dapat begituan nggak ngeluarin duit?”
Aku nyengir kuda saja
merespon keraguan mereka. Nggak mungkin juga rasanya aku fotokopi buku bank
sebagai bukti tidak ada biaya yang aku transfer ke rekening diva press.
Setiap saat yang berlalu di #kampusfiksi seolah tidak cukup hanya
sekali ku alami. Ingin terus terjadi. Kecuali satu hal. Untuk Mas Kiki, maaf
banget ya udah ngerepotin.. aku jadi merasa sebagai peserta paling rempong
segalaksi. Hee.. maaf Mas.. makasih juga udah di anterin nyampe kos :D
Untuk Pak Edi, kakak-kakak dari #kampusfiksi dan diva press, serta
teman-teman baru yang begitu luar biasa, terima kasih sudah menorehkan cerita
yang bisa ku sampaikan untuk anak cucuku kelak #halah #opoiki :D
Kapan lagi ku tulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu
Lagu galau itu sudah tidak ku tertawakan lagi. Justru lagu itu yang
menjadi umpan memutar kembali memori indah selama di #kampusfiksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar