Semudah Membalik Telapak Tangan
Hari
ini terasa berbeda. Hujan tidak mendinginkan kota, awan pun enggan bertahan di
atas langit, lebih memilih pergi. Tidak seperti hati Dara yang sedang teduh. Semua
wanita mungkin akan berlaku begitu saat dipuji oleh lelaki yang dipujanya. Ya,
Dara sedang memikirkan kata-kata Fajar tadi pagi.
“Dara,
kamu hari ini cantik, kayak tuan puteri.”
Kata-kata
itu sungguh membuat hati Dara bungah. Bagaimana tidak, Fajar yang selama ini
dia kagumi mengatakan hal seperti itu.
“Kamu
kenapa senyum-senyum?” tanya Velin, memecahkan lamunan indah Dara di tengah
bisingnya pedagang sate yang meneriakkan dagangannya.
“Kamu
seneng nggak kalau di bilang kayak tuan puteri?” Bukannya menjawab, Dara malah
balik bertanya.
“Nggak.”
jawab Velin cuek.
“Kok
nggak sih? Kan tuan puteri itu cantik.” wajah Dara berubah seketika mendengar
jawaban Velin. Seenaknya saja Velin menggugurkan bunga-bunga di hatinya.
“Nggak
suka aja. Biasanya puteri-puteri itu kisah hidupnya lebay, dandanannya
juga heboh.” Ujar Velin yang kali ini bahkan membuat bunga-bunga yang gugur
tadi menghitam kepanasan.
“Kamu
nggak ngerti perasaanku banget sih Lin.” Dara memasang wajah masam, yang menggelikan
di mata Velin
“Cie,
pasti habis di bilang kayak tuan puteri. Hayo, siapa yang muji kamu sampai
seneng begitu?”
Pipi
Dara bersemu mendengar godaan Velin. Mereka berdua sudah cukup lama berteman
dekat. Meskipun mereka tidak satu kos, tapi bagi Dara, kamar Velin merupakan
tempat yang menyenangkan ketika sedang bosan atau butuh teman. Seperti sore
ini.
“Pokoknya
dia itu orang yang udah lama banget aku kagumi, Lin. Kalau seandainya dia itu
jodohku, pasti aku bakalan seneng banget deh.”
Sambil
tertawa Velin mencoba menebak-nebak nama lelaki yang mungkin dikagumi Dara.
Tapi satupun tidak ada yang tepat. Bahkan sampai pedagang sate tadi tidak
terdengar suaranya, belum ada jawaban yang benar.
“Kamu
kejauhan nebaknya. Ayo tebak lagi. Kata kuncinya, mata kuliah tadi pagi kita
sekelas sama dia.”
Velin
mengerutkan dahi, berpikir. Lama-lama penasaran juga siapa yang memuji Dara barusan,
sampai membuatnya senyum-senyum sendiri begitu.
“Em,
Fajar?”
“Bener!
Kamu pinter juga.”
Respon
Dara sungguh membuat Velin menjadi bungkam. Fajar yang selama ini sering SMS
dan begitu perhatian padanya, hingga membuat ia berani menaruh harapan, memuji
Dara seperti itu. Hati Velin berubah menjadi pekat, kelam. Tidak seperti Dara
yang masih penuh warna.
“Kamu
kok diem? Jangan bilang kamu naksir Fajar juga. Jangan bilang kamu cemburu.”
Velin
menjadi gundah, haruskan ia jujur tentang kedekatannya dengan Fajar selama ini?
Tapi itu akan merobek hati Dara dan bisa-bisa hubungan mereka menjadi renggang.
“Nggaklah
Dara, aku mana berani sih naksir dia. Saingannya kamu.”
Mereka
berdua tertawa. Meski dengan perasaan yang berbeda.
***
Malam
ini Fajar kembali SMS Velin, menanyakan hal-hal kecil. Velin menjadi malas
membalas SMS darinya, takut terlalu berharap.
“Kamu
kok balasnya cuek? Kamu marah ya sama aku?”
Velin
membaca berkali-kali pesan itu. menimbang-nimbang kata apa yang ingin ia
bariskan sebagai balasan. Tiba-tiba ide itu muncul begitu saja. Entah setan
mana yang membisikkannya. Ya, mungkin tidak salah jika ia yang lebih dulu
menyatakan perasaannya kepada Fajar. Siapa cepat dia dapat. Siapa sih yang mau
melepas Fajar? Pria dengan wajah manis itu begitu memesona di mata tiap wanita.
Meskipun dia sering bolos kuliah, tapi
itu bukan hal yang terlalu penting untuk dipertimbangkan bagi orang yang sedang
jatuh hati. Akhirnya dengan perasaan cemas, Velin mengirim pesan itu pada
Fajar, berharap Dewi Fortuna berpihak pada dirinya.
“Apakah
hal itu masih perlu kau pertanyakan? Padahal aku sudah sejauh ini menyayangimu.
Mata
Velin berbinar-binar membaca jawaban Fajar. Itu artinya dia tidak perlu
khawatir dengan perasaan Dara yang ke-GR-an itu.
“Tapi
kamu janji ya, hubungan ini hanya kita berdua saja yang tau. Aku tidak ingin
ada yang membicarakan tentang kita.”
***
Velin
berupaya sekeras mungkin menutupi hubungan mereka di hadapan Dara. Tetapi tidak
selamanya matahari bersinar, dan tak selamanya pula pelangi melengkung. Saat
gelap mulai datang, semua akan sirna. Begitu pula kebohongan.
Seminggu
sudah Velin berdrama di hadapan Dara, dan Dara yang masih sibuk dengan angannya
tentang Fajar sama sekali tidak menyadarinya. Semua orang akan merasa sore itu
sama seperti sore-sore yang lalu, padahal tidak. Meskipun awan masih santai
bergerak-gerak mengikuti arah angin, begitu pula Dara yang tetap menemani Velin
menghabiskan waktu di kamar Velin yang sejuk. Tetapi petir mulai menggelegar
tatkala tidak sengaja Dara membaca pesan Fajar untuk Velin. Pesan yang begitu
mesra. Menggilas seluruh bunga-bunga yang baru saja ia tanam dihatinya.
“Kamu
ada hubungan apa dengan Fajar?” spontan Dara bertanya dengan harapan masih ada
hujan yang akan menghidupkan kembali bunga-bunga itu.
“Kamu
lihat apa barusan?” dengan panik Velin mengambil HP-nya kembali.
“Maaf,
tadi aku nggak sengaja baca pesan dari Fajar. Kalian udah jadian ya? Selamat
ya. Aku nggak nyangka orang yang aku kira paling mengerti aku ternyata nyimpen
racun.”
Wajah
gugup Velin tadi benar-benar meniup awan dari hati Dara. Hujan itu tidak
mungkin turun dan bunga itu tidak akan kembali mekar.
Velin
masih terpaku, hatinya pun tercabik. Bagaimana mungkin ia menjual murah
persahabatan yang telah lama ia jalin? Bahkan suara pedagang sate pun terdengar
mengejeknya. Seolah-olah mentertawakan kebodohannya yang terlalu takluk dengan
cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar