Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 05 Desember 2014

cerpen tiga jam

Semudah Membalik Telapak Tangan
Hari ini terasa berbeda. Hujan tidak mendinginkan kota, awan pun enggan bertahan di atas langit, lebih memilih pergi. Tidak seperti hati Dara yang sedang teduh. Semua wanita mungkin akan berlaku begitu saat dipuji oleh lelaki yang dipujanya. Ya, Dara sedang memikirkan kata-kata Fajar tadi pagi.
“Dara, kamu hari ini cantik, kayak tuan puteri.”
Kata-kata itu sungguh membuat hati Dara bungah. Bagaimana tidak, Fajar yang selama ini dia kagumi mengatakan hal seperti itu.
“Kamu kenapa senyum-senyum?” tanya Velin, memecahkan lamunan indah Dara di tengah bisingnya pedagang sate yang meneriakkan dagangannya.
“Kamu seneng nggak kalau di bilang kayak tuan puteri?” Bukannya menjawab, Dara malah balik bertanya.
“Nggak.” jawab Velin cuek.
“Kok nggak sih? Kan tuan puteri itu cantik.” wajah Dara berubah seketika mendengar jawaban Velin. Seenaknya saja Velin menggugurkan bunga-bunga di hatinya.
“Nggak suka aja. Biasanya puteri-puteri itu kisah hidupnya lebay, dandanannya juga heboh.” Ujar Velin yang kali ini bahkan membuat bunga-bunga yang gugur tadi menghitam kepanasan.
“Kamu nggak ngerti perasaanku banget sih Lin.” Dara memasang wajah masam, yang menggelikan di mata Velin
“Cie, pasti habis di bilang kayak tuan puteri. Hayo, siapa yang muji kamu sampai seneng begitu?”
Pipi Dara bersemu mendengar godaan Velin. Mereka berdua sudah cukup lama berteman dekat. Meskipun mereka tidak satu kos, tapi bagi Dara, kamar Velin merupakan tempat yang menyenangkan ketika sedang bosan atau butuh teman. Seperti sore ini.
“Pokoknya dia itu orang yang udah lama banget aku kagumi, Lin. Kalau seandainya dia itu jodohku, pasti aku bakalan seneng banget deh.”
Sambil tertawa Velin mencoba menebak-nebak nama lelaki yang mungkin dikagumi Dara. Tapi satupun tidak ada yang tepat. Bahkan sampai pedagang sate tadi tidak terdengar suaranya, belum ada jawaban yang benar.
“Kamu kejauhan nebaknya. Ayo tebak lagi. Kata kuncinya, mata kuliah tadi pagi kita sekelas sama dia.”
Velin mengerutkan dahi, berpikir. Lama-lama penasaran juga siapa yang memuji Dara barusan, sampai membuatnya senyum-senyum sendiri begitu.
“Em, Fajar?”
“Bener! Kamu pinter juga.”
Respon Dara sungguh membuat Velin menjadi bungkam. Fajar yang selama ini sering SMS dan begitu perhatian padanya, hingga membuat ia berani menaruh harapan, memuji Dara seperti itu. Hati Velin berubah menjadi pekat, kelam. Tidak seperti Dara yang masih penuh warna.
“Kamu kok diem? Jangan bilang kamu naksir Fajar juga. Jangan bilang kamu cemburu.”
Velin menjadi gundah, haruskan ia jujur tentang kedekatannya dengan Fajar selama ini? Tapi itu akan merobek hati Dara dan bisa-bisa hubungan mereka menjadi renggang.
“Nggaklah Dara, aku mana berani sih naksir dia. Saingannya kamu.”
Mereka berdua tertawa. Meski dengan perasaan yang berbeda.
***
Malam ini Fajar kembali SMS Velin, menanyakan hal-hal kecil. Velin menjadi malas membalas SMS darinya, takut terlalu berharap.
“Kamu kok balasnya cuek? Kamu marah ya sama aku?”
Velin membaca berkali-kali pesan itu. menimbang-nimbang kata apa yang ingin ia bariskan sebagai balasan. Tiba-tiba ide itu muncul begitu saja. Entah setan mana yang membisikkannya. Ya, mungkin tidak salah jika ia yang lebih dulu menyatakan perasaannya kepada Fajar. Siapa cepat dia dapat. Siapa sih yang mau melepas Fajar? Pria dengan wajah manis itu begitu memesona di mata tiap wanita.  Meskipun dia sering bolos kuliah, tapi itu bukan hal yang terlalu penting untuk dipertimbangkan bagi orang yang sedang jatuh hati. Akhirnya dengan perasaan cemas, Velin mengirim pesan itu pada Fajar, berharap Dewi Fortuna berpihak pada dirinya.
“Apakah hal itu masih perlu kau pertanyakan? Padahal aku sudah sejauh ini menyayangimu.
Mata Velin berbinar-binar membaca jawaban Fajar. Itu artinya dia tidak perlu khawatir dengan perasaan Dara yang ke-GR-an itu.
“Tapi kamu janji ya, hubungan ini hanya kita berdua saja yang tau. Aku tidak ingin ada yang membicarakan tentang kita.”
***
Velin berupaya sekeras mungkin menutupi hubungan mereka di hadapan Dara. Tetapi tidak selamanya matahari bersinar, dan tak selamanya pula pelangi melengkung. Saat gelap mulai datang, semua akan sirna. Begitu pula kebohongan.
Seminggu sudah Velin berdrama di hadapan Dara, dan Dara yang masih sibuk dengan angannya tentang Fajar sama sekali tidak menyadarinya. Semua orang akan merasa sore itu sama seperti sore-sore yang lalu, padahal tidak. Meskipun awan masih santai bergerak-gerak mengikuti arah angin, begitu pula Dara yang tetap menemani Velin menghabiskan waktu di kamar Velin yang sejuk. Tetapi petir mulai menggelegar tatkala tidak sengaja Dara membaca pesan Fajar untuk Velin. Pesan yang begitu mesra. Menggilas seluruh bunga-bunga yang baru saja ia tanam dihatinya.
“Kamu ada hubungan apa dengan Fajar?” spontan Dara bertanya dengan harapan masih ada hujan yang akan menghidupkan kembali bunga-bunga itu.
“Kamu lihat apa barusan?” dengan panik Velin mengambil HP-nya kembali.
“Maaf, tadi aku nggak sengaja baca pesan dari Fajar. Kalian udah jadian ya? Selamat ya. Aku nggak nyangka orang yang aku kira paling mengerti aku ternyata nyimpen racun.”
Wajah gugup Velin tadi benar-benar meniup awan dari hati Dara. Hujan itu tidak mungkin turun dan bunga itu tidak akan kembali mekar.
Velin masih terpaku, hatinya pun tercabik. Bagaimana mungkin ia menjual murah persahabatan yang telah lama ia jalin? Bahkan suara pedagang sate pun terdengar mengejeknya. Seolah-olah mentertawakan kebodohannya yang terlalu takluk dengan cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar