Turun ke level Halte
Masih pagi
ketika aku sudah sampai di universitas dimana namaku tercantum sebagai salah
satu mahasiswa baru. Aku berjalan perlahan sambil mengamati daerah kampus.
Maklum saja, ini merupakan pertama kalinya aku ke sana dan benar-benar sendirian.
“Maaf
mbak” tak sengaja seorang laki-laki berperawakan gagah menginjak kakiku.
“Eh
iya nggak apa-apa.” Aku menjawab datar.
“Mbaknya
kok melamun sih, ada yang bisa di bantu? Oh ya nama saya Fandi, saya sudah
semester empat.”
Aku
hanya tersenyum simpul sambil memperkenalkan diri. Tak lama kemudian kami telah
ngobrol banyak dan dia yang menemaniku mengurusi semua proses yang diminta oleh
kampus. Aku sudah biasa mengalami hal semacam ini, pura-pura menyenggol, minta
maaf, ngajak kenalan, dan pada akhirnya minta jadi pacar. Modus.
Menurut
banyak lelaki, aku adalah wanita yang cantik. Dan aku menyadari semua itu. Karenanya aku selalu PD walaupun harus berjalan sendiri. Aku bukan tipe
orang yang memaksa orang lain untuk menemaniku kemanapun aku pergi. Aku bisa tanpa
mereka.
“Bu,
aku sudah menyelesaikan semua urusan administrasinya, kuliah dimulai satu bulan
lagi, apa aku boleh pulang?” Sedikit merengek aku berkata pada ibuku. Aku masih
belum mengerti daerah ini, dan seperti yang aku katakan tadi, aku tidak mau
memaksa Fandi menemaniku kemana-mana.
“Iya,
kamu pulang saja Nak, kamu urusi sendiri tiketnya ya. Karena akan lebih mudah
mengurusnya kalau dari sana.” Terdengar suara jernih ibuku di seberang telepon.
Ku
tutup telepon dan menyandarkan kepalaku di bantal. Tiba-tiba hp-ku berdering
lagi. Telepon dari Amika. Teman karibku saat SMA.
“Kamu
pulang hari apa Der?” Tanya Amika.
“Lusa
Mik, kenapa?”
“Ini,
si Dewa bilang mau jemput kamu” Jawaban Amika cukup membuatku terkejut. Dewa
adalah salah satu mantan pacarku. Sudah lebih dari dua tahun kami putus, dan
setelah dia aku sudah menjalin hubungan dengan tiga pria lain.
“Kenapa?
Kan dia sendiri yang bilang kita udah nggak ada hubungan apa-apa.” Dengan malas kurespon perkataan Amika.
“Aku
juga nggak tahu. Mungkin dia kangen sama kamu.”
Aku
tidak terlalu menanggapi masalah Dewa tadi. Nggak penting menurutku. Toh
kalaupun dia mau menjemputku, aku akan tetap pulang bersama supir orang tuaku.
Kira-kira
jam 10 pagi, aku sampai di bandara Ahmad Yani. Di sana sudah ada adikku, Amika,
pak supir, dan benar saja, Dewa. Dia yang paling antusias menyambut
kedatanganku. Aneh sekali. Karena dulu dia yang memutuskan untuk mengakhiri
hubungan kami.
“Ayo
Der, aku bawakan tas kamu.” Semangat sekali Dewa mengambil tasku, namun segera
kutepis tangannya.
“Aku
bisa sendiri.” Jawabku datar. Selama perjalanan aku sama sekali tidak
menggubrisnya. Dia seolah-olah terus mencari perhatian. Menjengkelkan sekali.
“Kamu
kok gitu banget sih sama Dewa?” Sesampainya di rumahku, Amika langsung menatapku
tajam.
“Gitu
gimana? Emannya aku salah apa sih?” Dengan santai ku jawab pertanyaan Amika.
“Kamu
galak banget sama dia. Padahal dia udah mau baikan sama kamu.”
“Loh,
memangnya aku pernah ngajakin dia bertengkar? Enggak kan? Dia yang ngejauhi aku
dulu.” Aku menjawab ngotot. Aku sama sekali nggak merasa bersalah saat ini.
kenapa aku di salah-salahkan?
“Terserah
kamu deh, aku mau pulang, ngantuk.” Amika langsung berlalu.
Adikku yang
sejak awal menyaksikan perdebatan kami langsung angkat bicara melhat Amika
mulai ngambek. Namun dia tetap tidak berhasil membujuk Amika.
“Kakak
sih, kan sekarang Kak Mika jadi ngambek.” Gerutu Selia.
“Biarin
ajalah Dek, bukan salah kakak kok.” Aku masih teguh membela diri.
“Kalau
sikap kakak kayak gitu terus, nggak akan ada yang mau temenan sama kakak.”
Sambil menutup pintu kamar adikku yang baru berusia 16 tahun menceramahiku.
“Dasar
anak kecil sok tau.” Gerutuku dalam hati.
Tak
terasa sudah waktunya aku kembali ke perantauan. Amika sudah tidak marah lagi
padaku, dan aku sengaja tidak mengabari Dewa tentang keberangkatanku kali ini,
sehingga perjalananku mulus-mulus saja. Tapi ternyata tidak selamanya demikian.
Kau tau siapa yang aku lihat di bandara? Fandi. Entah bagaimana dia ada di
sana.
“Dek.
Baru sampai?” sapanya hangat. Entah sejak kapan ibunya melahirkan aku.
“Ia
mas. Kok ada di
sini?” jawabku berusaha ramah. Sebenarnya Fandi ini termasuk cowok tipeku.
Gagah, ganteng, dan cool. Tapi dia banyak jerawat. Bikin ilfill.
“Tadi nganterin teman. Besok kalau ada apa-apa waktu ospek, lapor saja sama mas, ntar mas
beresin.”
Tawaran
yang menarik. Tidak ada alasan untuk menolaknya. Namun aku
malah bertemu pria lain yang jauh lebih menarik dari Fandi. Ketua BEM
Universitasku. Dia juga memberi tawaran yang sama dengan yang Fandi berikan. Padahal aku yang nyamperin duluan. Bahkan dia lebih berani, karena langsung meminta nomor handphoneku
saat pertama kali dia mengajakku bicara. OMG.
Hari-hari
yang kulewati sangat menyenangkan. Berbeda sekali dengan cerita orang-orang
tentang ospek yang kejam, layaknya zaman penjajahan. Bagaimana mungkin aku
diperlakukan buruk kalau ada dua senior yang mendekatiku.
Tiba-tiba kulihat Fandi berboncengan mesra dengan salah
satu seniorku juga. Mbak Laras. Orangnya sih manis, tapi sayang agak gemuk. Aku
menatapnya dengan heran. Kenapa dia mendekatiku kalau sudah punya pacar? Ku
kirim wall di fb Fandi, dan di komen oleh Mbak Laras.
“Haha. Wajarlah dek kalau cowok nganterin pulang pacarnya”
Kata-kata yang cukup membuatku merasa jleb. OMG, lah terus ngapain
dia dekati aku?
Baiklah, masih ada Mas Galang. Namun ternyata, setelah hari dimana dia
meminta nomor handphoneku, dia sama sekali tidak menghubungiku, dan bahkan aku
dengar kabar dia udah jadian sama Meta. Mahasiswa baru juga di kampus. OMG. Apa
yang terjadi sama aku sih? Kenapa lelaki-lelaki itu Cuma singgah sebentar?
Mereka pikir aku halte apa?
Tenang Der, masih ada Dewa. Ku kirim SMS ke Dewa, sekedar basa basi. Namun
apa balasannya?
“Maaf Der, aku nggak mau bertengkar sama pacar aku gara-gara masih SMS an
sama mantan”
Membulat mataku saat membacanya. Mungkin sekarang aku harus berteriak.
OMG!!!