Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 13 Desember 2014

pencitraan

Pencitraan
Aku menulis semua tentangmu
Bagaimana hati ini menyusun perasaan saat ku dengar namamu
Dan bagaimana akal ini terlindas keras saat menghayal tentangmu
Aku tidak galau sayang, aku bahagia
Seperti yang kau lihat, aku selalu tertawa
Mungkin kau kira aku bercanda untuk menutipi luka
Tidak, itu tidak benar
Menginginkanmu tidak pernah menciderai aku
Semua yang tertuang mungkin terdengar samar
Perlahan menghilang
Seolah tertutup tangisan
Ah, itu semua hanya pencitraan
Agar terdengar merdu saja
Dalam kenyataannya aku tidak apa-apa


Jumat, 05 Desember 2014

cerpen tiga jam

Semudah Membalik Telapak Tangan
Hari ini terasa berbeda. Hujan tidak mendinginkan kota, awan pun enggan bertahan di atas langit, lebih memilih pergi. Tidak seperti hati Dara yang sedang teduh. Semua wanita mungkin akan berlaku begitu saat dipuji oleh lelaki yang dipujanya. Ya, Dara sedang memikirkan kata-kata Fajar tadi pagi.
“Dara, kamu hari ini cantik, kayak tuan puteri.”
Kata-kata itu sungguh membuat hati Dara bungah. Bagaimana tidak, Fajar yang selama ini dia kagumi mengatakan hal seperti itu.
“Kamu kenapa senyum-senyum?” tanya Velin, memecahkan lamunan indah Dara di tengah bisingnya pedagang sate yang meneriakkan dagangannya.
“Kamu seneng nggak kalau di bilang kayak tuan puteri?” Bukannya menjawab, Dara malah balik bertanya.
“Nggak.” jawab Velin cuek.
“Kok nggak sih? Kan tuan puteri itu cantik.” wajah Dara berubah seketika mendengar jawaban Velin. Seenaknya saja Velin menggugurkan bunga-bunga di hatinya.
“Nggak suka aja. Biasanya puteri-puteri itu kisah hidupnya lebay, dandanannya juga heboh.” Ujar Velin yang kali ini bahkan membuat bunga-bunga yang gugur tadi menghitam kepanasan.
“Kamu nggak ngerti perasaanku banget sih Lin.” Dara memasang wajah masam, yang menggelikan di mata Velin
“Cie, pasti habis di bilang kayak tuan puteri. Hayo, siapa yang muji kamu sampai seneng begitu?”
Pipi Dara bersemu mendengar godaan Velin. Mereka berdua sudah cukup lama berteman dekat. Meskipun mereka tidak satu kos, tapi bagi Dara, kamar Velin merupakan tempat yang menyenangkan ketika sedang bosan atau butuh teman. Seperti sore ini.
“Pokoknya dia itu orang yang udah lama banget aku kagumi, Lin. Kalau seandainya dia itu jodohku, pasti aku bakalan seneng banget deh.”
Sambil tertawa Velin mencoba menebak-nebak nama lelaki yang mungkin dikagumi Dara. Tapi satupun tidak ada yang tepat. Bahkan sampai pedagang sate tadi tidak terdengar suaranya, belum ada jawaban yang benar.
“Kamu kejauhan nebaknya. Ayo tebak lagi. Kata kuncinya, mata kuliah tadi pagi kita sekelas sama dia.”
Velin mengerutkan dahi, berpikir. Lama-lama penasaran juga siapa yang memuji Dara barusan, sampai membuatnya senyum-senyum sendiri begitu.
“Em, Fajar?”
“Bener! Kamu pinter juga.”
Respon Dara sungguh membuat Velin menjadi bungkam. Fajar yang selama ini sering SMS dan begitu perhatian padanya, hingga membuat ia berani menaruh harapan, memuji Dara seperti itu. Hati Velin berubah menjadi pekat, kelam. Tidak seperti Dara yang masih penuh warna.
“Kamu kok diem? Jangan bilang kamu naksir Fajar juga. Jangan bilang kamu cemburu.”
Velin menjadi gundah, haruskan ia jujur tentang kedekatannya dengan Fajar selama ini? Tapi itu akan merobek hati Dara dan bisa-bisa hubungan mereka menjadi renggang.
“Nggaklah Dara, aku mana berani sih naksir dia. Saingannya kamu.”
Mereka berdua tertawa. Meski dengan perasaan yang berbeda.
***
Malam ini Fajar kembali SMS Velin, menanyakan hal-hal kecil. Velin menjadi malas membalas SMS darinya, takut terlalu berharap.
“Kamu kok balasnya cuek? Kamu marah ya sama aku?”
Velin membaca berkali-kali pesan itu. menimbang-nimbang kata apa yang ingin ia bariskan sebagai balasan. Tiba-tiba ide itu muncul begitu saja. Entah setan mana yang membisikkannya. Ya, mungkin tidak salah jika ia yang lebih dulu menyatakan perasaannya kepada Fajar. Siapa cepat dia dapat. Siapa sih yang mau melepas Fajar? Pria dengan wajah manis itu begitu memesona di mata tiap wanita.  Meskipun dia sering bolos kuliah, tapi itu bukan hal yang terlalu penting untuk dipertimbangkan bagi orang yang sedang jatuh hati. Akhirnya dengan perasaan cemas, Velin mengirim pesan itu pada Fajar, berharap Dewi Fortuna berpihak pada dirinya.
“Apakah hal itu masih perlu kau pertanyakan? Padahal aku sudah sejauh ini menyayangimu.
Mata Velin berbinar-binar membaca jawaban Fajar. Itu artinya dia tidak perlu khawatir dengan perasaan Dara yang ke-GR-an itu.
“Tapi kamu janji ya, hubungan ini hanya kita berdua saja yang tau. Aku tidak ingin ada yang membicarakan tentang kita.”
***
Velin berupaya sekeras mungkin menutupi hubungan mereka di hadapan Dara. Tetapi tidak selamanya matahari bersinar, dan tak selamanya pula pelangi melengkung. Saat gelap mulai datang, semua akan sirna. Begitu pula kebohongan.
Seminggu sudah Velin berdrama di hadapan Dara, dan Dara yang masih sibuk dengan angannya tentang Fajar sama sekali tidak menyadarinya. Semua orang akan merasa sore itu sama seperti sore-sore yang lalu, padahal tidak. Meskipun awan masih santai bergerak-gerak mengikuti arah angin, begitu pula Dara yang tetap menemani Velin menghabiskan waktu di kamar Velin yang sejuk. Tetapi petir mulai menggelegar tatkala tidak sengaja Dara membaca pesan Fajar untuk Velin. Pesan yang begitu mesra. Menggilas seluruh bunga-bunga yang baru saja ia tanam dihatinya.
“Kamu ada hubungan apa dengan Fajar?” spontan Dara bertanya dengan harapan masih ada hujan yang akan menghidupkan kembali bunga-bunga itu.
“Kamu lihat apa barusan?” dengan panik Velin mengambil HP-nya kembali.
“Maaf, tadi aku nggak sengaja baca pesan dari Fajar. Kalian udah jadian ya? Selamat ya. Aku nggak nyangka orang yang aku kira paling mengerti aku ternyata nyimpen racun.”
Wajah gugup Velin tadi benar-benar meniup awan dari hati Dara. Hujan itu tidak mungkin turun dan bunga itu tidak akan kembali mekar.
Velin masih terpaku, hatinya pun tercabik. Bagaimana mungkin ia menjual murah persahabatan yang telah lama ia jalin? Bahkan suara pedagang sate pun terdengar mengejeknya. Seolah-olah mentertawakan kebodohannya yang terlalu takluk dengan cinta.

curhat dari #kampusfiksi

Kapan lagi ku tulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu
Dari dalam kamar asrama dua aku dan beberapa teman menertawakan musik yang di putar. Selama di #kampusfiksi, musik yang terdengar saat istirahat selalu lagu galau. Jumat malam aku tiba di gedung tempat akan di langsungkannya seluruh rangkaian acara #kampusfiksi. Setelah sebelumnya tunggu-tungguan di Stasiun Lempuyangan dengan Mbak Vina (mbak kandungku) dan Feni, dedek baru dari Surabaya. Tidak banyak yang kami ceritakan selama perjalanan. Mungkin sudah lelah dan mengantuk. Setibanya di gedung yang belum rampung itu, kami di sambut dengan hangat oleh kakak-kakak diva press. Ada dua kamar untuk perempuan, aku memilih memasuki kamar yang tidak jauh dari pintu masuk. Ternyata di sana sudah ada beberapa penghuni. Setelah berkenalan ala kadarnya, kami pun mulai mengatur posisi tidur.
Lebih dari lima puluh jam kami berada di dalam gedung itu, tanpa sedetik pun menginjakkan kaki di aspal luar. kami bercerita, menulis, mendengarkan, bernyanyi, makan, minum, mandi. Semuanya di lakukan di dalam ruangan yang hangat tersebut. keluarga baru yang kami temui benar-benar menyambut kami dengan ramah. Sehingga tak ada rasa bosan menyergap jiwa kami. Tunggu, tidak semuanya baru. Karena aku seangkatan dengan mbak kandungku, rasanya jadi aneh. Seru, sih, ada orang yang sudah saling mengerti. Tapi aku jadi merasa kurang akrab dengan yang lain. Mana kita sekelompok lagi. Jadinya kemana-mana berdua, bosen. (peace mbak Vina :p)
Terlalu banyak yang kami dapatkan di sana. Ilmu, keluarga baru, makanan yang nggak pernah habis, sampai buku yang banyak banget di dapatkan secara gratis. Semua temanku tercengang melihat apa yang aku bawa pulang.
itu semua gratis, Vik? Bohong deh. mana mungkin sebanyak itu gratis.”
“Kamu dapat kayak gitu nggak bayar? Enak banget.”
“Kamu kapan daftarnya? Tau gitu aku ikut juga.”
“Sumpah demi apa kamu dapat begituan nggak ngeluarin duit?”
 Aku nyengir kuda saja merespon keraguan mereka. Nggak mungkin juga rasanya aku fotokopi buku bank sebagai bukti tidak ada biaya yang aku transfer ke rekening diva press.
Setiap saat yang berlalu di #kampusfiksi seolah tidak cukup hanya sekali ku alami. Ingin terus terjadi. Kecuali satu hal. Untuk Mas Kiki, maaf banget ya udah ngerepotin.. aku jadi merasa sebagai peserta paling rempong segalaksi. Hee.. maaf Mas.. makasih juga udah di anterin nyampe kos :D
Untuk Pak Edi, kakak-kakak dari #kampusfiksi dan diva press, serta teman-teman baru yang begitu luar biasa, terima kasih sudah menorehkan cerita yang bisa ku sampaikan untuk anak cucuku kelak #halah #opoiki :D
Kapan lagi ku tulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu

Lagu galau itu sudah tidak ku tertawakan lagi. Justru lagu itu yang menjadi umpan memutar kembali memori indah selama di #kampusfiksi.

Kamis, 04 Desember 2014

pergilah

aku ingin menangis jika mengingatnya
aku terpuruk tiap kali sendiri
karena kau selalu menerobos ke dalam pikiranku
aku benci keadaan aku dalam dua dimensi
aku ingin terjadi tapi aku takut mengalami
aku tau semua sudah menggoncang tubuhku
berusaha menyadarkanku untuk tidak terlalu mengkhawatirkan jalan di depan
yang bisa saja sudah dirapikan
namun jiwa lemah ini terlalu kerdil untuk memahami arah tatapmu
membuat ia merasa teramat istimewa
padahal ianya bukan apa-apa
selalu saja begitu
tampar saja wajahku agar berhenti menoleh padamu
aku muak menerjemahkan bahasa tubuhmu
aku ingin pergi
tanpa kau yang menggelantung di dinding hati

turun ke level halte

Turun ke level Halte
Masih pagi ketika aku sudah sampai di universitas dimana namaku tercantum sebagai salah satu mahasiswa baru. Aku berjalan perlahan sambil mengamati daerah kampus. Maklum saja, ini merupakan pertama kalinya aku ke sana dan benar-benar sendirian.
“Maaf mbak” tak sengaja seorang laki-laki berperawakan gagah menginjak kakiku.
“Eh iya nggak apa-apa.” Aku menjawab datar.
“Mbaknya kok melamun sih, ada yang bisa di bantu? Oh ya nama saya Fandi, saya sudah semester empat.”
Aku hanya tersenyum simpul sambil memperkenalkan diri. Tak lama kemudian kami telah ngobrol banyak dan dia yang menemaniku mengurusi semua proses yang diminta oleh kampus. Aku sudah biasa mengalami hal semacam ini, pura-pura menyenggol, minta maaf, ngajak kenalan, dan pada akhirnya minta jadi pacar. Modus.
Menurut banyak lelaki, aku adalah wanita yang cantik. Dan aku menyadari semua itu. Karenanya aku selalu PD walaupun harus berjalan sendiri. Aku bukan tipe orang yang memaksa orang lain untuk menemaniku kemanapun aku pergi. Aku bisa tanpa mereka.
“Bu, aku sudah menyelesaikan semua urusan administrasinya, kuliah dimulai satu bulan lagi, apa aku boleh pulang?” Sedikit merengek aku berkata pada ibuku. Aku masih belum mengerti daerah ini, dan seperti yang aku katakan tadi, aku tidak mau memaksa Fandi menemaniku kemana-mana.
“Iya, kamu pulang saja Nak, kamu urusi sendiri tiketnya ya. Karena akan lebih mudah mengurusnya kalau dari sana.” Terdengar suara jernih ibuku di seberang telepon.
Ku tutup telepon dan menyandarkan kepalaku di bantal. Tiba-tiba hp-ku berdering lagi. Telepon dari Amika. Teman karibku saat SMA.
“Kamu pulang hari apa Der?” Tanya Amika.
“Lusa Mik, kenapa?”
“Ini, si Dewa bilang mau jemput kamu” Jawaban Amika cukup membuatku terkejut. Dewa adalah salah satu mantan pacarku. Sudah lebih dari dua tahun kami putus, dan setelah dia aku sudah menjalin hubungan dengan tiga pria lain.
“Kenapa? Kan dia sendiri yang bilang kita udah nggak ada hubungan apa-apa.”  Dengan malas kurespon perkataan Amika.
“Aku juga nggak tahu. Mungkin dia kangen sama kamu.”
Aku tidak terlalu menanggapi masalah Dewa tadi. Nggak penting menurutku. Toh kalaupun dia mau menjemputku, aku akan tetap pulang bersama supir orang tuaku.
Kira-kira jam 10 pagi, aku sampai di bandara Ahmad Yani. Di sana sudah ada adikku, Amika, pak supir, dan benar saja, Dewa. Dia yang paling antusias menyambut kedatanganku. Aneh sekali. Karena dulu dia yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.
“Ayo Der, aku bawakan tas kamu.” Semangat sekali Dewa mengambil tasku, namun segera kutepis tangannya.
“Aku bisa sendiri.” Jawabku datar. Selama perjalanan aku sama sekali tidak menggubrisnya. Dia seolah-olah terus mencari perhatian. Menjengkelkan sekali.
“Kamu kok gitu banget sih sama Dewa?” Sesampainya di rumahku, Amika langsung menatapku tajam.
“Gitu gimana? Emannya aku salah apa sih?” Dengan santai ku jawab pertanyaan Amika.
“Kamu galak banget sama dia. Padahal dia udah mau baikan sama kamu.”
“Loh, memangnya aku pernah ngajakin dia bertengkar? Enggak kan? Dia yang ngejauhi aku dulu.” Aku menjawab ngotot. Aku sama sekali nggak merasa bersalah saat ini. kenapa aku di salah-salahkan?
“Terserah kamu deh, aku mau pulang, ngantuk.” Amika langsung berlalu.
Adikku yang sejak awal menyaksikan perdebatan kami langsung angkat bicara melhat Amika mulai ngambek. Namun dia tetap tidak berhasil membujuk Amika.
“Kakak sih, kan sekarang Kak Mika jadi ngambek.” Gerutu Selia.
“Biarin ajalah Dek, bukan salah kakak kok.” Aku masih teguh membela diri.
“Kalau sikap kakak kayak gitu terus, nggak akan ada yang mau temenan sama kakak.” Sambil menutup pintu kamar adikku yang baru berusia 16 tahun menceramahiku.
“Dasar anak kecil sok tau.” Gerutuku dalam hati.
Tak terasa sudah waktunya aku kembali ke perantauan. Amika sudah tidak marah lagi padaku, dan aku sengaja tidak mengabari Dewa tentang keberangkatanku kali ini, sehingga perjalananku mulus-mulus saja. Tapi ternyata tidak selamanya demikian. Kau tau siapa yang aku lihat di bandara? Fandi. Entah bagaimana dia ada di sana.
“Dek. Baru sampai?” sapanya hangat. Entah sejak kapan ibunya melahirkan aku.
“Ia mas. Kok ada di sini?” jawabku berusaha ramah. Sebenarnya Fandi ini termasuk cowok tipeku. Gagah, ganteng, dan cool. Tapi dia banyak jerawat. Bikin ilfill.
Tadi nganterin teman. Besok kalau ada apa-apa waktu ospek, lapor saja sama mas, ntar mas beresin.”
Tawaran yang menarik. Tidak ada alasan untuk menolaknya. Namun aku malah bertemu pria lain yang jauh lebih menarik dari Fandi. Ketua BEM Universitasku. Dia juga memberi tawaran yang sama dengan yang Fandi berikan. Padahal aku yang nyamperin duluan. Bahkan dia lebih berani, karena langsung meminta nomor handphoneku saat pertama kali dia mengajakku bicara. OMG.
Hari-hari yang kulewati sangat menyenangkan. Berbeda sekali dengan cerita orang-orang tentang ospek yang kejam, layaknya zaman penjajahan. Bagaimana mungkin aku diperlakukan buruk kalau ada dua senior yang mendekatiku.
Tiba-tiba kulihat Fandi berboncengan mesra dengan salah satu seniorku juga. Mbak Laras. Orangnya sih manis, tapi sayang agak gemuk. Aku menatapnya dengan heran. Kenapa dia mendekatiku kalau sudah punya pacar? Ku kirim wall di fb Fandi, dan di komen oleh Mbak Laras.
“Haha. Wajarlah dek kalau cowok nganterin pulang pacarnya”
Kata-kata yang cukup membuatku merasa jleb. OMG, lah terus ngapain dia dekati aku?
Baiklah, masih ada Mas Galang. Namun ternyata, setelah hari dimana dia meminta nomor handphoneku, dia sama sekali tidak menghubungiku, dan bahkan aku dengar kabar dia udah jadian sama Meta. Mahasiswa baru juga di kampus. OMG. Apa yang terjadi sama aku sih? Kenapa lelaki-lelaki itu Cuma singgah sebentar? Mereka pikir aku halte apa?
Tenang Der, masih ada Dewa. Ku kirim SMS ke Dewa, sekedar basa basi. Namun apa balasannya?
“Maaf Der, aku nggak mau bertengkar sama pacar aku gara-gara masih SMS an sama mantan”
Membulat mataku saat membacanya. Mungkin sekarang aku harus berteriak. OMG!!!