Wikipedia

Hasil penelusuran

Rabu, 03 Juni 2015

bekas berkualitas

Bekas Berkualitas
Aku terperanjat. Tubuhku masih berkedip-kedip, menyala redup. Kutelan utuh kekesalan yang mulai betah tinggal di hatiku. Aku lelah. Sangat lelah.
Tangan itu kembali mengangkatku, membangunkanku yang baru saja pejam. Aku memaksakan diri kembali sadar. Menyediakan apa saja yang ia inginkan, membiarkan ia memerintahku sesuka hatinya. Hingga aku tak tau apa lagi yang terjadi pada diriku.
“Apa kau merasa lebih baik?” tanyanya pelan, sambil terus menyuapiku.
“Ya, terima kasih.” Masih dalam keadaan lemah kujawab pertanyaannya. “Mengapa aku dibangunkan?”
“Seperti biasa, ia selalu mencemaskanmu.”
Aku tersenyum lirih. Sejujurnya, obat yang paling manjur saat ini hanya tidur. Tapi sayangnya mereka tidak mengerti. Dan tidak mungkin aku yang memberi penjelasan.
***
Aku tidak membuka mata, tidak berusaha bangun dan mencari mereka. Suara-suara yang kukenal perlahan mulai menjauh. Seakan tidak pernah terekam dalam cerita masa lalu. Oh, tapi tidak semua. Dia yang selalu menyuapiku, menjejalkan energi untukku bersinar ternyata disini. Aku bisa merasa sentuhannya. Meski saat ini ia hanya terbaring diam.
“Apa yang terjadi?” Pelan kubangunkan dia. Menginginkan fakta selama aku beristirahat.
“Kita akan pindah rumah,” ujarnya pelan, tapi sangat menohok.
“Pindah rumah? Mengapa?”
“Karena dia jenuh dengan kita. Dia akan memiliki yang lain. Tentu lebih pintar dan elegan ketimbang kau. Kau taukan bagaimana wataknya? Ia ingin selalu dipuja.”

Aku diam. Selarik kertas diatasku mulai berbunyi. Menguak kebisuan yang menyergap kotak kecil tempat kami bersandar. Mengantarkan kenangan kembali dalam kepala. Tentang pertama kali aku dibelinya, lengkap dengan pemasok energi dan surat-surat resmi. Saat itu aku baru sepuluh hari dipajang. Membuat sekitarku menjadi iri. Betapa cepat aku diizinkan untuk berkelana. Dan ternyata, secepat itu pula aku harus pindah. Hanya sepuluh hari aku memanjakannya, dan ia mengantarku kemari. Membuatku harus berjajar rapi dengan membawa nama “handphone bekas berkualitas.”

Sabtu, 28 Februari 2015

tujuh tahun

Tujuh tahun
Kamis mengawali pagi dengan kabut tipis yang turun menyapa jalanan. Mengingatkanku pada dirimu yang selalu berangan bisa mengantongi kabut untuk kau tebarkan sebagai hiasan di kamarmu.
Mungkin kau terkejut saat mendengar ini, tapi aku memang masih mengingat banyak hal tentang dirimu. Kendati kita telah berpisah tujuh tahun lamanya.
Aku membuka jendela kamar, aroma nasi goreng berebut masuk ke hidungku. Ya, Bu Mar, tetanggaku, memang selalu menyelesaikan masakannya pagi-pagi sekali sebelum pelanggannya berangkat bekerja. Tak heran jika setengah jam setelah adzan subuh, uap dari kompornya sudah melalang buana ke hidung manusia yang terjaga.

Aku ingat, kau selalu mencintai nasi goreng. Terutama buatan Bu Mar. Memang tanganku belum diberi mantra, karena itu masakanku tidak selezat milik Bu Mar. Tapi tidak mengapa, aku selalu bersedia mengetuk pintu rumahmu dengan sepiring nasi goreng yang kubeli di warung Bu Mar. Aku pikir itu sudah cukup untuk memasok energimu. Setidaknya sampai istirahat makan siang. Meskipun kau tau, aku selalu merasa khawatir. Aku takut setelah tujuh tahun, nasi goreng yang mengepul itu akan terasa dingin saat mendarat di lidahmu. Sedingin jemariku saat pertama kali kau genggam. Tujuh tahun yang lalu.

Selasa, 13 Januari 2015

0

0 ada di depanmu
mengintip geram
kau yang bersembunyi
0 masih diam saja
lebam hati biar terpenjara
0 kan menyergapmu
menyeringai di antara dua mata
kau yang mengabaikan
0 yang mengungkapkan

dinding

dinding masih kaku
tegak saja menatap kebencian
kokoh tubuhnya menopang amarah alam
memberontak dalam kepalsuan
diam
retak-retak tipis yang tak tersapu mata
siap menelan engkau
kala gelakmu membahana