Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 28 Februari 2015

tujuh tahun

Tujuh tahun
Kamis mengawali pagi dengan kabut tipis yang turun menyapa jalanan. Mengingatkanku pada dirimu yang selalu berangan bisa mengantongi kabut untuk kau tebarkan sebagai hiasan di kamarmu.
Mungkin kau terkejut saat mendengar ini, tapi aku memang masih mengingat banyak hal tentang dirimu. Kendati kita telah berpisah tujuh tahun lamanya.
Aku membuka jendela kamar, aroma nasi goreng berebut masuk ke hidungku. Ya, Bu Mar, tetanggaku, memang selalu menyelesaikan masakannya pagi-pagi sekali sebelum pelanggannya berangkat bekerja. Tak heran jika setengah jam setelah adzan subuh, uap dari kompornya sudah melalang buana ke hidung manusia yang terjaga.

Aku ingat, kau selalu mencintai nasi goreng. Terutama buatan Bu Mar. Memang tanganku belum diberi mantra, karena itu masakanku tidak selezat milik Bu Mar. Tapi tidak mengapa, aku selalu bersedia mengetuk pintu rumahmu dengan sepiring nasi goreng yang kubeli di warung Bu Mar. Aku pikir itu sudah cukup untuk memasok energimu. Setidaknya sampai istirahat makan siang. Meskipun kau tau, aku selalu merasa khawatir. Aku takut setelah tujuh tahun, nasi goreng yang mengepul itu akan terasa dingin saat mendarat di lidahmu. Sedingin jemariku saat pertama kali kau genggam. Tujuh tahun yang lalu.