Tujuh tahun
Kamis mengawali pagi dengan kabut tipis yang turun menyapa jalanan.
Mengingatkanku pada dirimu yang selalu berangan bisa mengantongi kabut untuk
kau tebarkan sebagai hiasan di kamarmu.
Mungkin kau terkejut saat mendengar ini, tapi aku memang masih
mengingat banyak hal tentang dirimu. Kendati kita telah berpisah tujuh tahun
lamanya.
Aku membuka jendela kamar, aroma nasi goreng berebut masuk ke
hidungku. Ya, Bu Mar, tetanggaku, memang selalu menyelesaikan masakannya
pagi-pagi sekali sebelum pelanggannya berangkat bekerja. Tak heran jika
setengah jam setelah adzan subuh, uap dari kompornya sudah melalang buana ke
hidung manusia yang terjaga.
Aku ingat, kau selalu mencintai nasi goreng. Terutama buatan Bu
Mar. Memang tanganku belum diberi mantra, karena itu masakanku tidak selezat
milik Bu Mar. Tapi tidak mengapa, aku selalu bersedia mengetuk pintu rumahmu
dengan sepiring nasi goreng yang kubeli di warung Bu Mar. Aku pikir itu sudah
cukup untuk memasok energimu. Setidaknya sampai istirahat makan siang. Meskipun
kau tau, aku selalu merasa khawatir. Aku takut setelah tujuh tahun, nasi goreng
yang mengepul itu akan terasa dingin saat mendarat di lidahmu. Sedingin
jemariku saat pertama kali kau genggam. Tujuh tahun yang lalu.